Selasa, 10 November 2009

Sakit di Kota Orang

Saya sedang sakit.

Yah, memang sesuai yang sudah saya prediksikan selama seminggu terakhir bahwa tidak lama lagi pasti daya tahan saya ambrol juga, hal ini benar-benar terjadi. Tapi, penyakit yang menyerang sama sekali baru bagi saya dan sangaaaat tidak bonafide!! Saya kena Diare+virus entah apa....

Karena penasaran dan tidak menerima fakta diare-lah penyakit yang datang, saya akhirnya menarik kesimpulan penyebab semua ini adalah:
batagor makan siang saya yang ada di gerbang depan. JENG JENG JENG
Menarik sekali untuk dicatat bahwa sebelumnya saya kena typhus setelah beberapa kali makan di Jalan Gelap Nyawang. Berarti tinggal satu tempat 'panas' lagi yang belum saya sambangi untuk membuktikan betapa minimnya imunitas saya haha bisa jadi indikator kebersihan makanan nih.

Di samping segala ketidakenakan dan kesedihan yang saya alami ada hal positif juga yang muncul ke permukaan. Saya jadi benar-benar bisa merasakan betapa sekarang teman-teman kuliah adalah keluarga yang bisa saya percaya. Bahasa inggrisnya kira-kira: They are people I really can rely on (beda arti hahaha...)
Devita Permanasari yang selalu siaga setiap ada masalah (contoh ketua kelas teladan)


Dinda Fauzani dan Listya Swasti Lestari yang sangat keibuan!!!

Asri Cipta Indah dengan swift pink CIO-nya yang menjemput saya
tanpa kamu, aku sudah die di angkot babyyy

Saya terharu dengan rasa urgensi yang muncul di suara mereka ketika saya minta tolong ditemani ke Borromeus. Saya terharu dengan sikap menghibur mereka yang khas yang sangat membantu saya melupakan mual dan pusing keliyengan di sepanjang perjalanan. Saya terharu dengan rasa solidaritas mereka yang tidak ikut datang. Saya jadi merasa nyaman dan senang saya boleh punya orang-orang seperti ini di sekitar saya.

Teman-teman yang baik terimakasih ya!
*pesan penting untuk teman-teman:
sejujurnya saat sedang sakit, keluhan yang keluar dari mulut saya akan sangat berlebihan dan akan menimbulkan kesan sakit yang berlipat ganda. Hal ini sedang saya usahakan untuk dikurangi tapi kebiasaan dari kecil sangat sulit di pangkas hehehe jangan mudah terpengaruh yaaa!

Minggu, 01 November 2009

woy gw cape woy!

Mengutip kalimat yang ditulis teman gw, Listya Swasti Lestari, di twitternya, "woy, gw cape woy!" adalah kata-kata super tepat yang ingin gw teriakkan ke setiap orang yg gw temui di jalan. misalnya begini,
"WOY mas yang di sana! Gw cape nih!!! pijetin!"
"Woy mbaak! jangan bengong ajaaaa, gw cape woooy!"
"woy lo! gw cape woy!"
Kenapa gw jadi se-moaner ini ya? Sedikit-sedikit emosi naik. Belum ditambah kondisi fisik yang patut diacungi jempol kebalik. Kepala penat, mata perih+kantung mata segede karung beras, rambut acak-acakan super besar, dan kaki ngilu kepegelan adalah menu kombinasi gw untuk beberapa minggu terakhir ini.
Mau mengadu tapi mengadu kepada siapa? Sudah jelas bahwa semua teman kuliah di ITB mengalami hal yang sama. Kalau gw merepet mengeluhkan semua hal di atas bisa-bisa berujung pada jambak-jambakan plus ngambek gamau saling ketemu seminggu.
Sebenarnya gw udah mulai terbiasa sama rutinitas ini, sayangnya fisik gw masih mencoba mengikuti. Tiap malem setelah pulang latihan hoki, hati gw berbunga-bunga merasa puas tapi badan ga kuat rasanya mau rontok. Tiap pulang sampai kamar rasanya otak siap seratus persen untuk ngerjain tugas tapi mata ga mau diajak kompromi minta ditutup barang 8 jam aja (tidur berkualitas sesuai buku PLKJ!). Sampai kapan nih gw mau lemah seperti ini?

teman-teman BHUPALAKA
Dan kehidupan gw di kampus sekarang tidak akan bisa jauh dari BHUPALAKA, nama angkatan gw di TL 08. 7 hari seminggu gw terus melihat muka-muka mereka dan berinteraksi secara intens. Jelas bukan hal yang mudah untuk gw yang sukar percaya dan sangat-sangat subjektif ini. Apalagi teman-teman dekat gw yang dulu sekelas TPB kebanyakan masuk sipil, hal yang sempat membuat gw ragu akan keputusan menjadi anak TL.
Awal-awalnya memang agak kagok. Gw hanya mengenal seperempat dari angkatan, yang jumlahnya HANYA 98 orang, dan bahkan gw hanya kenal dengan 2 orang laki-laki dari jumlah 30-an yang ada di TL 2008 sekarang. Mungkin ini dampak negatif dari TPB, sistem kelas membuat lo cukup merasa nyaman dan malas keluar mencari teman baru.
Bagaimana gw menyikapi dan membuat jadi benar hal ini? pertama-tama terimakasih kepada pekka hmtl yang telah memfasilitasi kami supaya jadi lebih erat. Kadar senang yang gw rasakan berbanding lurus dengan besar tanggung jawab dan resiko dari tugas-tugas angkatan yang diberikan. Semakin heboh semakin terlihat siapa yang begini siapa yang begitu. Yaah semoga sampai nanti tua, sakit-sakitan, dan sebagainya, nama Bhupalaka ini masih bisa punya arti dan menempel di hati masing-masing dari kami.

Jumat, 09 Oktober 2009

Kejadian dalam beberapa hari terakhir ini....

Setahun yang lalu ketika saya melihat mahasiswa semester ketiga ke atas, dalam hati saya berkata,
"Ih, kuliah apa tuh? Santai banget!"
"Ohmy, TPB is the worst thing ever happened to me"
"Gamau ya kuliah TPB seenak mereka (memandang iri dengan suara annoying)"
Demi Tuhan, Bangsa, dan Almamater, saya minta maaf ya mahasiswa-mahasiswa tahun kedua ke atas!

Kejadian dalam beberapa hari terakhir mengingatkan saya kembali kepada alasan mengapa saya menghindari kegiatan berorganisasi di masa-masa kuliah ini. Tapi sayangnya kaki sudah terlanjur basah, kenapa tidak sekalian berenang gaya lumba-lumba sekalian?

Haha.

Kejadian dalam beberapa hari terakhir mengingatkan saya akan janji penuh nafsu yang saya ucapkan begitu pengumuman USM keluar. Terbukti bahwa menjadi rajin tidak terlalu mencerminkan saya.

Haha.

Kejadian dalam beberapa hari terakhir menyadarkan saya bahwa saya tidak pernah bisa lepas dari ibu saya.

Kejadian dalam beberapa hari terakhir ini menyadarkan saya bahwa mengenang sejarah tidak akan membawa saya ke mana-mana.

Kejadian dalam beberapa hari terakhir ini mengingatkan saya bahwa saya sudah dewasa dan hidup semi-sendiri. Jadi apa yang harus dilakukan?


Sedang dalam keadaan setengah trans ketika menulis post kali ini. Kenapa? Karena penyakit lama kembali tapi kondisi fisik sudah sangat tidak mendukung. Semoga tidak sampai jatuh sakit terlalu parah hingga terlunta-lunta dan terbata-bata.

Tiba-tiba sekelumit pikiran tentang teman-teman BHUPALAKA datang lalu membuat saya jadi ingin mengenal mereka secara personal dan berteman dengan terbuka/tanpa malu-malu.